Pemilu 2019 Diharapkan Mampu Melahirkan Pemilih Cerdas

dpc-tegal
DPC PPP Targetkan Enam Kursi di DPRD Kabupaten Tegal
09/04/2019
masruhan1
Sebagai Partai Kader, PPP Jateng Optimis Raih 13 Kursi di Pileg 2019
12/04/2019

Pemilu 2019 Diharapkan Mampu Melahirkan Pemilih Cerdas

28-Djoko-PPP-Jateng-1008x630

SEMARANG – Pemilu 2019 yang akan digelar 17 April mendatang diharapkan tidak hanya melahirkan wakil rakyat (Legistaltif), Presiden dan Wapres yang berkualitas, tetapi lebih dari dapat memunculkan para pemilik-pemilih yang cerdas, terutama di kalangan komunitas generasi milenial yang berani menolak transaksional.

Djoko Nurhadi SH, Calon Anggota (Caleg) DPRD Jateng PPP Dapil Jateng III (Kabupaten Demak, Kudus dan Jepara) nomor urut 2 mengatakan sangat disayangkan kalau pemilu serentak yang dijadwalkan akan berlangsung pekan depan tidak berhasil memunculkan pemilih cerdas.

“Tidak mudah memunculkan pemilih cerdas, akibat dihadang berbagai kendala. Namun demi masa depan bangsa yang lebih baik, langkah ini harus ditempuh dan dimulai sejak sekarang,” ujar Djoko, Rabu (10/4).

Bersama beberapa caleg lintas parpol, Djoko siap menggalang gerakan pencegahan pragmatisme di kalangan milenial dalam menjatuhkan pilihan wakil rakyat baik tingkat kabupaten/kota, provinsi, pusat, DPD maupun paslon capres cawapres.

Meski belum maksimal dari sisi hasil, lanjutnya, namun cukup menggembirakan karena tunas-tunas bangsa terdidik dan pemilih pemula yang didekatinya sangat mendukung gerakan ini. Mereka berdomisili di kawasan Pantura Jateng bagian timur, dalam menjatuhkan pilihan caleg dan capres mengabaikan bahkan menolak transaksi uang.

Semestinya sikap mereka didukung oleh para elit, namun belajar dari pengalaman masa lalu nampaknya dukungan itu masih belum berhasil diperoleh secara maksimal .

Menurutnya, apa yang dilakukannya untuk menghidari money politik dalam meraih dukungan publik memang tindakan yang tidak populer dalam kontek upaya meraih kekuasaan dan kedudukan melalui proses demokrasi.

Namun, tutur Djoko, hal itu adalah pilihan dalam upaya membangun demokrasi yang bersih dan memunculkan pemilih yang cerdas dan rasional. Pemilu jangan hanya dijadikan ajang untuk memobilisir dukungan dan mengeksploitasi emosi pemilih saja, sisi pendidikan politik warga jangan sampai diabaikan.

Dengan lahirnya pemilih cerdas tidak dapat berjalan instan, tetapi melalui proses panjang dan menghadapi berbagai problem yang tidak ringan, termasuk keberanian dalam mengambil keputusan tidak populer seperti meninggalkan politik transaksional. Ke depan jika mayoritas pemilih cerdas semakin dominan, sudah dapat dipastikan bakal mampu melahirkan pemimpin yang berkualitas melalui rahim demokrasi yang sejati. [SemarangPedia]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *